Introduction

Standing at the forefront of an ever-quickening energy transition, like most countries with an oil-rich history, Indonesia is currently at a fork in the road of its energy production journey. On the one hand, fossil fuel reserves promise a bountiful loot, and on the other, unexplored renewable possibilities offer a fresh outlook for a greener future.

As the country walks a tightrope towards its 2060 net zero target, it must balance energy security and decarbonisation, carefully keeping the lights on while propelling towards a cleaner ambition.

Di tengah-tengah transisi energi yang begitu cepat, Indonesia, seperti kebanyakan negara-negara yang memiliki sejarah panjang industry minyak dan gas, saat ini berada dipersimpangan jalan antara memilih untuk mengekploitasi cadangan minyak dan gas bumi, atau memilih untuk mengeksplorasi energi terbarukan untuk masa depan yang lebih hijau.

Sebagaimana Indonesia telah mentargetkan untuk mencapai net zero carbon pada tahun 2060, Indonesia harus dapat menyeimbangkan keamanan energi dan proses dekarbonisasi, guna tetap terpenuhinya kebutuhan energi dalam negeri.

Indonesia 02426f8294f8881a63deaa90e5e804df

Balanced views on renewable energy

Indonesia has historically prioritised energy security over becoming a major energy exporter. However, this could be set to change as the nation begins to take its place within the global energy transition, with agreements in place to export clean energy to Singapore, and recent progress made in prioritising natural gas, solar and geothermal energy.

The region has significant renewable potential, but has so far suffered from limited budget and conservative policies, utilising only a few percent of its untapped capacity. Despite a gradual pace for renewable growth in 2023, the country has marked ambitions to grow its energy industry across sectors and bolster its power generation too. With this, it looks to ensure that in the future, lower carbon intensity energy sources also have a part to play in both the energy transition and energy security of the region.

At a crossroads, Indonesia is perfectly placed to introduce greater digital technologies to supercharge its slow and steady growth.

Indonesia, secara historis, selalu memprioritaskan keamanan energi daripada menjadi salah satu negara pengexport energi. Namun, hal tersebut dapat segera berubah ditandai seiring dengan ikutnya Indonesia mengambil peran dalam transisi energi global, menandatangani perjanjian kerja sama untuk mengirim energi bersih ke Singapura, dan juga dengan mulai memprioritaskan gas alam, solar dan geothermal energi sebagai sumber energi terbarukan.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, namun dengan investasi yang terbatas, kebijakan yang masih bersifat konservatif, hal tersebut masih menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk memaksimalkan penggunaan energi terbarukan. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi terbarukan di 2023, Indonesia berambisi untuk terus meningkatkan semua sektor industri energi termasuk juga memaksimalkan pembangkit tenaga listrik. Melihat hal tersebut, dapat dipastikan sumber energi dengan angka rendah karbon juga akan mengambil peran dalam transisi energi dan keamanan energi regional.

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu wilayah yang sangat tepat untuk mengimplementasikan teknologi digital twin, demi mengoptimalkan peran energi terbarukan yang terus bertumbuh.

Bp oil rig

A mixed bag

With decarbonisation under a global spotlight and oil and gas set to continue to play a major role in Indonesia’s varied energy portfolio, the country must pay acute attention to its operating practices. Indeed, aging infrastructure is a key concern for Indonesia’s oil and gas industry and digital technologies can play a key role in maximising efficiencies and reducing greenhouse gases.

[Find out more about AIS in Indonesia]

Methane emissions in Indonesia reached a record high of more than 420 million metric tonnes of carbon dioxide equivalent (MtCO₂e) in 2021, but with estimates that around 70% of global methane emissions from fossil fuels could be reduced with existing technology, it’s clear that we already have a lot of the answers. Similarly, emerging digital technologies could have a significant impact on increasing renewable capacity, allowing the country to support its unique circumstances.

Luckily for energy operators in Indonesia, pioneering solutions have been tried and trusted elsewhere and are poised to deliver valuable impact in the region’s energy transition. Digitalising operations can bring a whole host of benefits such as reducing asset downtime and improving worker productivity and on-site execution efficiency, by bringing together data that helps to paint a vivid picture of an asset’s real-time status.

By utilising digital technologies, operators can add a new lens to their maintenance reporting, making the invisible, visible, to showcase where emissions leak and equipment needs updating before it becomes a major issue. Equally, carbon capture, utilisation and storage (CCUS) projects that operators are introducing to achieve energy efficiency targets can themselves benefit from digitalisation and greater visibility.

Solutions such as AIS’ R2S can help with predictive maintenance to improve the efficiency of overall operations. In regions such as Indonesia, where teams can be upwards of 1000s of miles away, being able to log onto an asset remotely allows engineers to get to the crux of a problem in a matter of minutes, instead of days.

Dekarbonisasi sendiri selalu menjadi sorotan utama di industri minyak dan gas bumi global, terutama bagi Indonesia, dimana peran dekarbonisasi dalam industri minyak dan gas Indonesia dalam melaksanakan operasi dan produksinya menjadi isu yang sangat penting. Implementasi teknologi digital dalam infrastruktur industri minyak dan gas bumi Indonesia, akan memainkan peran yang sangat besar dalam memaksimalkan efisiensi dan juga mengurangi gas rumah kaca.

[Cari tahu lebih lanjut mengenai AIS di Indonesia]

Emisi gas metana di Indonesia mencatatkan rekor tertinggi di 2021, lebih dari 420 juta metrik ton setara karbon dioksida, namun, sekitar 70% emisi gas metana global dapat dikurangi dengan mengimplementasikan teknologi dalam operasi minyak dan gas bumi. Bagi Indonesia yang memiliki ambisi mencapai 2060 net zero dan meningkatkan kapasitas energi terbarukan, implementasi dan penggunaan teknologi menjadi solusi yang paling tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Beruntungnya bagi para operator energi di Indonesia, banyak operator-operator energi di negara lain yang sudah mengimplementasikan teknologi dalam operasi mereka, dan terbukti memberikan manfaat dan dampak yang besar bagi transisi energi mereka. Transformasi digital bagi operasi industri energi dapat memberikan dampak yang cukup signifikan kepada para operator untuk mengurangi downtime sebuah aset dan meningkatkan produktivitas dan efisiensi, hanya dengan memberikan kapabilitas untuk dapat menyatukan dan memvisualkan data dari aset tersebut secara real-time.

Menggunakan teknologi digital, para operator dapat memiliki pandangan baru terhadap proses pemeliharaan dan pelaporan mereka, membuat hal-hal yang mungkin selama ini tidak terlihat dan tidak disadari menjadi terlihat dengan jelas dan dapat dengan mudah dipahami, seperti mendapatkan gambaran dimana letak kebocoran emisi gas metana, atau peralatan mana yang perlu dilakukan perbaikan atau pemeliharaan sebelum terjadinya equipment failure. Sama dengan projek carbon capture, utilization and storage (CCUS) yang diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengurasi emisi gas metana, mengimplementasikan teknologi digital pada projek tersebut, dapat meningkatkan efisiensi energi dengan signifikan dan juga memberikan pemahaman dan visualisasi dengan jelas dan nyata mengenai emisi gas metana yang dihasilkan oleh suatu aset.

Solusi teknologi digital seperti R2S yang dimiliki oleh Asset Information Services (AIS) dapat membantu para operator memberikan kapabilitas untuk melakukan predictive maintenance, meningkatkan efisiensi seluruh operasi. Dengan pengimplementasian R2S di Indonesia, tim operasional yang berada lebih dari 1000km dari suatu aset dapat dengan mudah melihat dan menemukan masalah yang terjadi di aset mereka hanya dalam hitungan menit dari jarak yang jauh.

AIS oil barrel 2

Making the invisible, visible

Whether its decarbonising existing oil and gas operations, or optimising new renewables projects, digital twin technology can pull back the curtain on energy operations in Indonesia.

At AIS, we’re well equipped to support the local industry at any and all stages of its digitalisation journey, giving you the confidence to get the most out of your assets and your team on the ground.

Baik dekarbonisasi operasi minyak dan gas bumi, mengoptimalkan projek energi terbarukan, teknologi digital twin dapat memberikan gambaran, pandangan dan pemahaman yang sangat jelas dan nyata bagi operasi energi di Indonesia.

Di AIS, kami siap membantu dan mendukung perjalanan transformasi digital industri energi di Indonesia dengan memberikan para operator kapabilitas untuk memaksimalkan produktivitas dan efisiensi aset yang dimiliki.

DSC00188