Introduction

Operators in Indonesia’s oil and gas industry face a unique challenge unlike any other market on earth. Distance. Spread across the nation’s 17,000 islands, production assets, infrastructure and refining facilities are scattered in remote locations unlike anywhere else on the planet.

The good news is that that there are powerful digital solutions that can provide a detailed overview of all of an operator’s assets at the click of a button, and there are already companies in Indonesia reaping the benefits.

Operator industri minyak dan gas bumi di Indonesia mengalami tantangan yang sangat unik dan berbeda dari industri minyak dan gas bumi yang lainnya. Sebagai negara kepulauan yang memiliki 17.000 pulau dan tersebar di seluruh wilayah, aset produksi, infrastruktur dan fasilitas kilang minyak Indonesia banyak berada di lokasi terpencil, tidak seperti di negara-negara lainnya.

Berita baik dalam menghadapi tantangan tersebut adalah saat ini dengan menggunakan solusi digital, para operator aset minyak dan gas bumi di Indonesia dapat melihat dan mendapatkan gambaran jelas dari aset mereka hanya dengan menekan 1 tombol, dan beberapa operator minyak dan gas bumi di Indonesia sudah merasakan manfaat dan keuntungan dari menggunakan solusi digital.

Indonesia 02426f8294f8881a63deaa90e5e804df

In focus from afar

Traditionally, in Indonesia, inspecting an asset in person has meant workers travelling for up to 24 hours., taking up valuable employee time and limited company resources. But modern digital systems can support the rapid integration of data to allow engineers and managers to instantly visualise their assets on a screen as small as a mobile phone without the need to waste time on lengthy data gathering activities.

And we can go one step further, centralised systems can bring together data from the most remote corners of Indonesia to identify issues as they unfold in real time. Trained models can pinpoint exact anomalies, faults and risks providing a live overview of infrastructure. Equipped in this way, oil and gas companies, and their government partners, can inspect many more assets, more regularly while maximising efficiencies and increasing their ability to catch risk early.

Di Indonesia, selama ini biasanya proses inspeksi suatu aset dilakukan dengan mengirimkan para tenaga kerja, melakukan perjalanan hampir 24 jam, menghabiskan waktu dan juga sumber daya perusahaan. Tetapi dengan sistem digital modern yang dapat mengintegrasikan banyak data memberikan para engineer dan juga para manager melihat aset mereka secara instan di layar komputer bahkan mobile phone mereka tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari data dibutuhkan.

Bahkan dengan mengimplemetasikan sistem digital moderen industri minyak dan gas bumi di Indonesia dapat melakukan sentralisasi dengan menyatukan seluruh data yang dimiliki oleh operasi minyak dan gas bumi yang ada di seluruh wilayah Indonesia, mengidentifikasi isu-isu yang terjadi secara real-time. Model yang dibangun dengan sistem digital dapat menemukan anomali, kerusakan dan resiko dengan memberikan gambaran langsung dari infrastruktur tersebut. Dengan menggunakan system tersebut, para operator minyak dan gas bumi, dan juga pemerintah Indonesia dapat dengan mudah menginspeksi aset-aset yang tersebar di Indonesia secara berkala, sekaligus memaksimalkan efisiensi dan meningkatkan kemampuan untuk menemukan resiko terlebih dahulu sebelum hal tersebut terjadi.

Environmental pollution industry exterior daylight

Connecting the dots: A case study

But what does a centralised data system look like in reality? In practice, solutions like AIS’ R2S digital twin bring together 2D data, visual data and real-time data into one place to empower operators to break down historic data silos, challenge outdated information and eliminate disjointed tools which hinder progress. These applications enable teams to visually plan and deliver work more efficiently while navigating critical project timelines, like a scheduled turnaround (TAR).

In Indonesia, an international oil company (IOC) has already seen first-hand how digital twins can revolutionise their operations at an LNG refinery located more than 20 hours away from the nearest hub city.

Looking for a solution that offered the ability to collaborate off-site to reduce longwinded and costly travel, the IOC also needed something that would mitigate the impact of limited on-site internet and communications.

Facing another boundary, Indonesia’s stringent data storage laws meant all data must be stored in-country, so a partner with a local footprint was a must. In partnership with regional representative PT Compnet, AIS emerged as the natural choice to solve the IOC’s unique challenges with an innovative solution.

Once the refinery was captured within R2S, the IOC’s return on investment was apparent, cutting costs for travel and employee time as well as increasing collaboration. The team no longer needed to attend in-person to plan for meticulously scheduled TARs or scramble when unplanned emergencies arose, thanks to new crisis management processes.

Not only did existing employee expenses decrease as a result of the work, but training new apprentices also became safer and cheaper due to remote learning. New trainees no longer need to spend as much time at dangerous sites and can practice their skills on working 3D models before needing to attend in-person.

Pada kenyataannya sering kali sistem data yang tersentralisasi dipertanyakan harus terlihat seperti apa? Di dalam prakteknya , solusi seperti R2S digital twin menyatukan data 2D, data visual dan data real-time dalam 1 tempat untuk memberikan operator kemampuan untuk meruntuhkan data silo, memastikan informasi yang lalu, dan menghilangkan kendala-kendala yang menghalangi kemajuan industri minyak dan gas bumi. Teknologi ini memungkinkan operator untuk menggambarkan dan memvisualkan rencana kerja mereka dan melakukan pekerjaan dengan lebih efisien, sekaligus mengarahkan projek penting seperti turnaround (TAR).

Di Indonesia, salah satu international oil company (IOC) telah mengimplementasikan teknologi tersebut dan telah merasakan bagaimana digital twin merevolusikan operasi kilang LNG mereka yang berjarak lebih dari 20 jam dari kota terdekat.

Mencari sebuah solusi yang dapat menawarkan kemampuan untuk berkolaborasi secara off-site untuk mengurangi perjalanan yang lama dan mahal, IOC tersebut juga menginginkan solusi yang dapat memberikan jawaban untuk terbatasnya komunikasi dan internet pada saat berada di on-site.

Menghadapi tantangan berikutnya, hukum Indonesia yang sangat ketat dalam mengatur bahwa segala bentuk data yang berhubungan dengan industri minyak dan gas bumi harus disimpan di dalam server yang berlokasi di Indonesia, sehingga lokalisasi menjadi salah satu keharusan. Melalui regional partnership, James Fisher Asset Information Services bersama dengan PT Compnet, menjadi satu-satunya pilihan bagi IOC tersebut untuk membantu menghadapi tantangan unik yang mereka hadapi dan memberikan solusi yang inovatif, dengan menggunakan teknologi R2S digital twin.

Setelah kilang minyak yang dimiliki oleh IOC tersebut diimplementasikan R2S, return of investment dapat langsung terlihat dan dirasakan, mulai dari berkurangnya biaya perjalanan juga produktivitas dan kolaborasi para engineer yang semakin meningkat. Tim terkait tidak perlu lagi menghabiskan waktu untuk melakukan survey sebelum melakukan rencana pekerjaan khususnya untuk melakukan turnaround (TAR)
atau bahkan tidak perlu lagi kesulitan mencari data atau root cause
ketika terjadi isu darurat, karena adanya proses menejemen krisis baru berkat implementasi teknologi R2S digital twin.

Tidak hanya pengeluaran Perusahaan yang berkurang sebagai hasil dari peningkatan produktivitas, tetapi pelatihan bagi karyawan dan engineer baru juga semakin aman dan tidak memerlukan biaya yang besar karena dapat dilakukan nya pelatihan secara jarak jauh atau remote. Karyawan atau engineer baru tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu di lokasi yang berbahaya dan dapat melatih kemampuan mereka dengan bekerja menggunakan 3D model sebelumnya mereka terjun ke aset secara langsung.

AIS oil barrel 2

As clear as day

The results speak for themselves. Indonesia’s energy industry necessitates a tailored and nuanced approach to digitalisation, but it also has so much to gain, bringing assets thousands of kilometers away into focus, giving operators and the government the capability to visualise any asset with the click of a button.

Hasil akan selalu terlihat dengan sendirinya. Industri energi di Indonesia membutuhkan pendekatan digitalisasi yang bersifat modular dan menyesuaikan kebutuhan para operator minyak dan gas bumi, yang juga dapat memberikan banyak keuntungan dalam operasi mereka. Mendekatkan aset yang berlokasi ribuan kilometer, memberikan para operator dan pemerintah Indonesia kapabilitas untuk melihat dan memvisualkan aset-aset yang tersebar di seluruh Indonesia hanya dengan menekan 1 tombol.

Rsz 2microsoftteams image 66